« Perpustakaan di Pojok Rumah | Main | Antara Gutenberg dan Pi Sheng »
Kertas dan Mesin Cetak
By sabrul.jamil | May 22, 2008
Sejarah Penemuan Kertas
Gonjang ganjing rencana pemerintah menaikkan harga BBM hingga 30% ternyata diprediksi akan langsung berpengaruh terhadap kenaikan harga buku.
Harga buku kemungkinan besar akan naik akibat adanya rencana kenaikan harga bahan bakar (BBM) bersubsidi. Kenaikan harga buku maksimal mencapai 30 persen jika kenaikan BBM ditetapkan pemerintah diantara kisaran 25 sampai 30 persen.
“Ini paralel dengan kenaikan distribusi dan kenaikan harga bahan
“Jika harga BBM naik otomatis harga buku pelajaran juga naik, karena terkait dengan melonjakanya biaya transportasi dan bahan
Buku, dengan komponen utama adalah kertas, memang bagian tak terpisahkan dari pendidikan modern. Dengan sendirinya, sejarah keberadaan buku tidak bisa dilepaskan dari sejarah keberadaan kertas.
Kita tahu, sebelum kertas ditemukan, peradaban Mesir Kuno menyumbangkan papirus sebagai media tulis menulis. Penggunaan papirus sebagai media tulis menulis ini digunakan pada peradaban Mesir Kuno pada masa wangsa firaun kemudian menyebar ke seluruh Timur Tengah sampai Romawi di Laut Tengah dan menyebar ke seantero Eropa, meskipun penggunaan papirus masih dirasakan sangat mahal.
Dari kata papirus (papyrus) itulah dikenal sebagai paper dalam bahasa Inggris, papier dalam bahasa Belanda, bahasa Jerman, bahasa Perancis misalnya atau papel dalam bahasa Spanyol yang berarti kertas.
Buku kuno ketika itu, belum berupa tulisan yang tercetak di atas kertas modern seperti sekarang ini, melainkan tulisan-tulisan di atas keping-keping batu (prasasti) atau juga di atas kertas yang terbuat dari daun papyrus. Papyrus adalah tumbuhan sejenis alang-alang yang banyak tumbuh di tepi Sungai Nil.
Selain Mesir, bangsa Romawi juga memanfaatkan papyrus untuk membuat tulisan. Panjang gulungan papyrus itu kadang-kadang mencapai puluhan meter. Hal ini sungguh merepotkan orang yang menulis maupun yang membacanya. Karena itu, gulungan papyrus ada yang dipotong-potong. Papyrus terpanjang terdapat di British Museum di London yang mencapai 40,5 meter.
Perkembangan selanjutnya, orang-orang Timur Tengah menggunakan kulit domba yang disamak dan dibentangkan. Lembar ini disebut pergamenum yang kemudian disebut perkamen, artinya kertas kulit. Perkamen lebih kuat dan lebih mudah dipotong dan dibuat berlipat-lipat sehingga lebih mudah digunakan. Inilah bentuk awal dari buku yang berjilid.
Sebelum kertas ditemukan, buku-buku di China umumnya dibuat dari bambu dan bahan sutra. Selain kaku, “buku bambu” ini cukup berat. Bayangkan, seseorang memerlukan satu gerobak untuk membawa sejumlah buku yang diperlukannya. Jika sampai saat ini kertas belum juga ditemukan, mungkin kita akan melihat kampus-kampus sekarang penuh dengan mahasiswa yang menarik-narik gerobak.
Sedangkan buku dari bahan sutera diterbitkan dalam eksemplar terbatas, sehingga tidak semua orang dapat memperoleh bacaan bermutu karena mahalnya bahan-bahan bacaan dari sutra. Gagasan menciptakan kertas dipengaruhi kenyataan betapa tidak praktis dan mahalnya medium tulis-menulis dari bahan-bahan tersebut.
Satu versi mengatakan, Tsai Lun menciptakan kertas dari kulit pohon murbei dan mempersembahkan temuannya itu kepada Kaisar Han Ho Ti. Konon, Kaisar sangat senang dengan penemuan ini. Sejak itu, kertas digunakan secara luas di
Siapakah Tsai Lun?
Nama Tsai Lun (Cai Lun) memang tidak terlalu populer dibanding dengan Johann Gutenberg (1400–1468). Padahal, tokoh asal Tiongkok ini merupakan penemu kertas.
Tsai Lun telah memulai upaya tersebut dengan menciptakan kertas pada tahun 105 Masehi. Catatan tentang penemuan kertas ini terdapat dalam penulisan sejarah resmi Dinasti Han.
Tsai Lun dilahirkan di
Tsai Lun mengawali karier intelektualnya sebagai pegawai negara pada pengadilan kekaisaran. Setelah mengabdi sebagai pegawai kaisar sejak tahun 75 Masehi, Tsai Lun memperoleh banyak penghargaan dan kenaikan pangkat. Pada tahun 89, Tsai Lun dipromosikan sebagai sekretaris dalam pekerjaan tulis-menulis kerajaan. Tahun itu juga, Tsai Lun memperoleh jabatan pada kantor yang berwenang dalam pabrikasi senjata.
Tsai Lun menciptakan kertas dari kulit pohon murbei dan mempersembahkan temuannya itu kepada Kaisar Han Ho Ti. Konon, Kaisar sangat senang dengan penemuan ini. Sejak itu, kertas digunakan secara luas di
Kertas bikinan Tsai Lun diolah dengan merendam bagian dalam kulit murbei, lalu dipukul-pukul hingga seratnya lepas. Bersama kulit, direndam juga bahan rami, kain bekas, dan jala ikan. Setelah menjadi bubur, bahan ini ditekan hingga tipis dan dijemur. Lalu jadilah kertas yang mutunya belum sebagus sekarang.
Beberapa tenaga ahli pembikin kertas tertawan dan dibawa orang-orang Arab.
Pengetahuan mengenai cara pembikinan kertas menyebar tidak hanya di daratan Timur Tengah, tetapi meluas hingga ke Barat dan beberapa negara Eropa. Bangsa Eropa tidak belajar pembikinan kertas di
Tsai Lun meninggal dengan menenggak racun pada tahun 121 Masehi, setelah ia dikeluarkan dari istana karena terlibat komplotan antikaisar. Untuk menghormati jasanya, sebuah kuil didirikan di
Gutenberg telah berhasil mengatasi kesulitan pembuatan buku yang dibuat dengan ditulis tangan. Gutenberg menemukan cara pencetakan buku dengan huruf-huruf logam yang terpisah. Huruf-huruf itu bisa dibentuk menjadi kata atau kalimat. Selain itu, Gutenberg juga melengkapi ciptaannya dengan mesin cetak. Namun, tetap saja untuk menyelesaikan satu buah buku diperlukan waktu agak lama karena mesinnya kecil dan jumlah huruf yang digunakan terbatas. Kelebihannya, mesin Gutenberg mampu menggandakan cetakan dengan cepat dan jumlah yang banyak.
Gutenberg memulai pembuatan mesin cetak pada abad ke-15. Teknik cetak yang ditemukan Gutenberg bertahan hingga abad ke-20 sebelum akhirnya ditemukan teknik cetak yang lebih sempurna, yakni pencetakan offset, yang ditemukan pada pertengahan abad ke-20.
(dari berbagai sumber. Rujukan utama adalah buku Elegi Gutenberg karya Putut Widjanarko)
Comments
You must be logged in to post a comment.