« Metodologi Pengumpulan Hadits: Meneladani Kerja Para Ulama di Bidang Informasi | Main | Ensiklopedia, dari Dulu sampai Sekarang »
Mau Sehat? Menulislah!
By sabrul.jamil | May 18, 2008
Menurut Fatima Mernissi, sebagaimana dikutip Hernowo dalam bukunya Quantum Writing, menulis itu menyehatkan.
Usahakan menulis setiap hari. Niscaya, kulit Anda akan menjadi segar kembali akibat kandungannya yang luar biasa! Dari saat Anda bangun, menulis meningkatkan aktivitas sel. Dengan coretan pertama di atas kertas kosong, kantung di bawah mata Anda akan segera lenyap dan kulit Anda akan terasa segar kembali.
Seberapa jauh kebenaran kata-kata tersebut, saya pribadi belum membuktikannya. Namun, ternyata telah ada penelitian yang membuktikan dampak menulis bagi kesehatan. Berikut petikan dari buku Quantum Writing,
Pada tahun 1990-an, seorang psikolog yang telah melakukan penelitian selama lima belas tahun tentang pengaruh upaya membuka diri terhadap kesehatan fisik, menerbitkan sebuah buku berjudul Opening Up: The Healing Power of Expressing Emotions. “Buku Opening Up ini membahas bagaimana upaya mengungkapkan segala pengalaman yang tidak mengenakkan dengan kata-kata bisa mempengaruhi pemikiran, perasaan, dan kesehatan tubuh seseorang. Buku ini ditulis berdasarkan pengalaman saya sebagai peneliti, bukan sebagai dokter atau terapis,” tulis Pennebaker di awal “Prakata” untuk buku karyanya.
Pennebaker menunjukkan kepada kita, sekali lagi, pelbagai manfaat menulis sebagaimana tersaji berikut ini:
1. Menulis menjernihkan pikiran. Saat memulai tugas yang rumit, cobalah untuk menuliskan pikiran dan perasaan Anda. Para ahli hipnotis profesional sering menggunakan teknik ini untuk mempercepat proses hipnotis. Pada dasarnya, mereka meminta klien mereka untuk menuliskan pikiran dan perasaan mereka pada saat itu. Saat klien mereka selesai menulis, ahli hipnotis ini meminta klien untuk merobek kertas yang mereka pakai dan membuangnya. Hal ini merupakan sebuah tindakan simbolis bagi penjernihan pikiran.
2. Menulis mengatasi trauma yang menghalangi penyelesaian tugas-tugas penting. Sesudah terjadinya sebuah kemelut yang besar, orang-orang cenderung dihantui kejadian itu. Dalam memikirkan trauma itu, dan bahkan dalam upaya untuk tidak memikirkannya, orang-orang akan menggunakan kapasitas pikiran-pikirannya yang terbesar. Oleh sebab itu, mereka akan menjadi pelupa dan tidak bisa memusatkan perhatian mereka pada pekerjaan-pekerjaan baru yang besar. Menulis tentang trauma akan membantu dalam mengelola trauma, dan dengan demikian membebaskan pikiran untuk menangani tugas-tugas lainnya.
3. Menulis membantu memecahkan masalah. Karena menulis mendorong proses integrasi informasi, maka menulis bisa membantu memecahkan masalah-masalah yang rumit. Jika seseorang menulis dengan bebas tentang sebuah masalah yang rumit yang sedang ia hadapi, ia akan lebih mudah untuk mendapatkan pemecahannya. Ada beberapa alasan untuk hal ini. Salah satunya adalah bahwa menulis memaksa orang-orang memusatkan perhatian mereka lebih panjang pada satu topik tertentu daripada kalau mereka hanya memikirkannya. Karena menulis lebih lambat daripada berpikir, setiap gagasan harus dipikirkan dengan lebih terperinci. Menulis lebih bersifat “linier” daripada berpikir, yaitu bahwa menulis memaksa suatu gagasan untuk ditranskripkan sebelum gagasan lainnya mulai dipikirkan.
Singkatnya, menulis bisa menjadi sebuah kemampuan yang sangat berharga dalam mempelajari dan menghadapi dunia. Pada kesempatan yang tepat, menulis bisa meningkatkan kesehatan fisik dan mental. Meskipun bukan suatu obat yang serba manjur, penggunaan kegiatan menulis secara bijaksana bisa memperbaiki kualitas kehidupan bagi sebagian besar dari kita.
Sudah cukup jelas bagi kita bahwa menulis akan membuat kita lebih mudah mengingat potongan-potongan data yang tersembunyi di otak kita. Lebih dari itu, seperti yang ditunjukkan oleh penelitian tentang kegiatan mencatat, menulis catatan yang penuh pemikiran, atau, dalam kasus anak-anak kecil, coretan-coretan, membantu orang-orang untuk mendapatkan dan mengingat kembali gagasan-gagasan baru. Menulis bisa membantu memberikan suatu kerangka yang bisa dipakai untuk memahami perspektif baru dan unik dari orang lain. Bahkan menulis tentang hal tersebut akan membuat gagasan-gagasan semakin jelas dan mudah diingat. Demikian hasil penelitian Pennebaker sebagaimana dikutip Hernowo dalam bukunya Quantum Writing.
Dengan kata lain, menulis memudahkan dalam proses belajar. Kita semua tahu, belajar adalah sesuatu yang utama dalam Islam. Segala sesuatu yang memudahkan kita dalam proses belajar dengan sendirinya menjadi utama pula.
Di sisi lain, banyak di antara kita yang proses belajarnya hanya diperoleh ketika melewati pendidikan formal di sekolah. Begitu lulus, proses belajar mereka pun terhenti. Simaklah kata-kata Stephen R Covey berikut, dalam bukunya The Seven Habits of The Highly Effective People,
Sebagian besar dari perkembangan mental dan disiplin studi kita berasal dari pendidikan formal. Tapi segera sesudah kita meninggalkan disiplin eksternal sekolah, banyak dari kita membiarkan otak kita terhenti pertumbuhannya. Kita tidak lagi membaca secara serius, kita tidak menjajagi subjek baru secara mendalam di luar bidang aktifitas kita, kita tidak berpikir secara analitis, kita tidak menulis – sedikitnya tidak kritis atau tidak dengan cara tertentu menguji kemampuan kita mengekspresikan diri dalam bahasa yang baik, jelas dan ringkas. Sebaliknya, kita malah menghabiskan waktu kita menonton TV.
Penelitian yang masih berlanjut menunjukkan bahwa di kebanyakan rumah, televisi menyala sekitar tiga puluh ima sampai empat puluh lima jam seminggu. Jumlah waktu yang sama banyaknya dengan yang banyak orang gunakan untuk pekerjaan mereka, lebih banyak dari waktu yang digunakan untuk sekolah. TV adalah pengaruh sosialisasi yang paling kuat. Dan ketika kita menonton, kita menjadi subjek dari semua nilai yang diajarkannya. Ia dapat sangat mempengaruhi kita dengan cara yang sangat samar dan tidak kentara.
Dalam keluarga kami, kami membatasi kegiatan menonton televisi sampai sekitar tujuh jam seminggu, yaitu rata-rata satu jam sehari. Kami mengadakan rapat keluarga untuk membicarakan hal itu dan melihat beberapa data sehubungan dengan apa yang terjadi di rumah karena pengaruh televisi.
Kami mendapatkan bahwa dengan mendiskusikannya sebagai satu keluarga pada saat tak seorang pun bersikap defensif atau argumentatif, orang-orang mulai menyadari penyakit ketergantungan karena menjadi kecanduan pada opera sabun atau diet tetap acara tertentu.
Demikian pernyataan Covey, pakar kepemimpinan terkemuka abad ini.
Bagaimana dengan Anda?
Topics: Menulis |
Comments
You must be logged in to post a comment.