Categories

Blogroll

Meta

Archives


« Berdakwah via Internet Secara Gratis | Main | Krisis Epistemologis; Nyata di Dunia Maya? »

“Jihad” Keywords

By nizaminz | January 23, 2008

Jihad dikenal sebagai salah satu amal puncak dan sangat penting dalam Islam. Hanya mereka yang buta atau membutakan diri terhadap sejarahlah yang bisa mengenepikan jihad begitu saja dari elemen penting konsepsi Islam. Entah karena alasan itu atau bukan, jihad jugalah yang selama ini sering distigmakan negatif oleh media Barat dan “kaki-tangannya”.

“Fase berikutnya” tentu mudah ditebak: publik termakan manipulasi media, makin menyalahpahami dan suburlah kebencian terhadap Islam. Bahkan sebagian kecil kalangan muslim pun seolah tanpa sadar membiarkan dirinya terjebak dengan mereduksi makna jihad.


Tapi siapa sangka, ada juga “fase berikutnya” jenis lain. Publik yang masih mau berpikir akan mencari informasi pembanding, mengkonfirmasi hingga meninjau-ulang pemikirannya, dan menemukan secara utuh sebagaimana Islam yang sebenarnya. Hal ini tentu bisa diusahakan.

Internet, Aktivitas Mencari, dan Pentingnya Keywords (Kata Kunci)

Aktivitas mencari sepertinya termasuk aktivitas asasi para pengguna internet di manapun berada. Bagaimana tidak? Fitrah manusia beradab dalam memuaskan akalnya terwujud dalam rasa keingintahuan, sekecil dan untuk motif apapun itu. Internet, sebuah dunia maya yang luas nyaris tanpa batas, semakin memanjakan keingintahuan itu.

Bermilyar halaman web dibuat, dan siapa gerangan yang mau bertindak “aneh” untuk mengaksesnya satu per satu—bahkan sekedar “tahu semua” halaman web pun mustahil rasanya. Bukankah yang dibutuhkan ialah sesuatu yang disebut informasi?

Dalam konteks ini, kehadiran situs yang menyediakan layanan mesin pencari (search-engine) menjadi kebutuhan tak terelakkan. Dengan membuka situs search-engine tersebut, lalu cukup ketikkan keywords (kata kunci) yang dirasa tepat, hampir semua orang bisa menemukan ihwal apapun yang bernilai informatif.

Tentunya menarik dibayangkan bagaimana sebuah mesin pencari bekerja hingga sampai pada kesimpulan untuk sekedar menampilkan beberapa link saja di halaman pertama hasil pencariannya. Dari sini tak heran, mengapa banyak pengelola situs yang memandang penting agar artikel atau informasi di situsnya bisa masuk pada halaman pertama hasil pencarian. Tentu, dengan terlebih dulu menyiapkan keywords apa saja yang akan dijadikan sasaran. Agar ketika sang netter mencari dengan keywords itu, semaksimal mungkin terarahkan ke situs yang dikelolanya.

Akan sangat memprihatinkan jikalau misalnya keywords:

“Islam”

pendidikan Islam

partai Islam

peradaban Islam

justru menampilkan link-link situs yang mengelirukan di halaman pertama hasil pencarian. Syukur hal “se-ekstrim” itu tidak sampai terjadi(?). Tapi apa perlu menunggu hal ekstrim untuk menyadari bahwa kita bisa dan perlu berbuat sesuatu?

Upaya Nyata Webmaster dan Blogger Muslim

Bagi para webmaster situs keislaman dan sebagian netter, itu semua pastinya lumrah belaka. Beragam tutorial SEO ( Search Engine Optimization) pun bertebaran sedemikian banyaknya. Dari sumber berbahasa asing, ada panduan berharga langsung dari Matt Cuts yang bekerja di perusahaan mesin pencari nomor wahid zaman kiwari <http://google.co.id/> . Di mailing list mifta-perjuangan, Pak Romi Satria Wahono juga pernah merekomendasikan search engine ranking factors, selain ikut berbagi perihal bagaimana strategi memperkuat branding media elektronik dengan contoh kasus situs Media Islam Rujukan.

Lebih praktis lagi, pilihan beralih ke WordPress <http://wordpress.org/> sebagai platform publikasi di internet mungkin sudah menjadi tren. Selain karena diklaim paling user-friendly, apalagi kalau bukan karena “sifat” semantik dan karakteristik Web 2.0 lainnya. Contohnya situs ihwal pemanfaatan teknologi informasi untuk dakwah Islam seperti INTERNIDA <http://internida.mifta.org/> ini.

Nah, sebagai individu muslim yang berkesempatan mencicipi nikmat berupa koneksi internet, khususnya mereka yang “melek blog”, ada beberapa hal sederhana yang bisa dilakukan.

1. Memaksimalkan tag heading dalam artikel

Hirarkie tag heading yang maksimal akan membantu mesin pencari dalam mengenali struktur halaman situs. Lebih khusus lagi terkait tag heading dalam sebuah artikel. Contohnya, untuk sebuah artikel yang cukup panjang, seringkali ditambahkan beberapa subjudul yang membawahi beberapa paragraf agar pembaca merasa terarah. Nah, jangan ragu untuk “membungkus” subjudul itu dengan tag <h3></h3> misalnya.

2. Maksimal memberi tag

Di dunia blog, aktivitas memberi tag pada suatu artikel adalah bagian yang melekat. Semaksimal mungkin, tulislah tag yang “bermakna”, dan menarik untuk diklik. Jangan sia-siakan setiap artikel keislaman yang dirasa bagus untuk dibagi dengan tidak memberinya tag yang cukup deskriptif. Untuk blog di WordPress.com misalnya, halaman tag global tak jarang menjadi pintu masuk potensial bagi pengunjung. Cara termudah bisa dengan menulis kembali kata-kata kunci yang unik dan khas dalam artikel yang sudah ditulis. Ingatlah juga untuk menampilkan tag cloud di sidebar.

3. Tak segan merekomendasikan link

Website bahkan artikel keislaman online seolah memilah pembacanya. Pembaca website Muhammadiyah belum tentu menyambangi website Nahdlatul Ulama . Penikmat website partai yang dikenal bersih, peduli, dan anti-korupsi <http://pk-sejahtera.org/> , belum tentu melirik website partai Islam yang eksis sejak lama <http://www.ppp.or.id/> .

Bila pada level tertentu, sekedar bertukar link pun belum lagi bisa dilakukan “begitu saja”, sebagai blogger muslim tentu harus beda ceritanya. Tak usah segan atau sungkan merekomendasikan link artikel keislaman dari berbagai situs tanpa pandang afiliasi “golongan”.

Cara termudah mungkin dengan memasang agregasi dari situs keislaman. Cukup ketahui alamat feed-nya, lalu umpankan ke RSS reader dan tampilkan di blog masing-masing.

4. Deskriptif dalam menulis anchor text

Setiap kali merekomendasikan link dalam artikel, usahakanlah agar menempelkan link itu kepada kata/kalimat (anchor text) bermakna yang menunjukkan tema isi artikel yang dilink. Misalnya, alih-alih menuliskan di sini <http://islamonline.net/> , lebih baik menulis referensi berita muslim internasional <http://islamonline.net/> untuk merujuk ke situs IslamOnline.net.

Ini akan berdampak positif pada artikel yang dirujuk. Lebih jelasnya, semakin banyak yang merujuk suatu halaman web dengan anchor text kata-kata tertentu, maka ketika kata-kata tertentu itu digunakan sebagai keywords oleh siapapun pengguna, peluang mesin pencari untuk mengarahkan ke halaman web tadi akan semakin besar.

5. Kirim link ke situs social bookmarking

Seperti nomor 3, hanya saja memanfaatkan situs lain di luar pengelolaan kita dan “khususnya cocok” bagi mereka yang punya “kelebihan bandwidth”. Contohnya situs seperti Digg atau del.icio.us (berbahasa asing) dan LintasBerita (berbahasa Indonesia). Nah setiap link yang dikirim (disubmit ) ke situs seperti itu lalu banyak dibookmark pula oleh pengguna lainnya cenderung akan mendapat “prioritas” dari mesin pencari untuk ditampilkan di halaman pertama.

6. Menulis artikel di Wikipedia

Selain link dari situs social bookmaring, bukan hal yang baru jika dikatakan bahwa artikel Wikipedia <http://id.wikipedia.org/> juga nyaris selalu menduduki peringkat atas hasil pencarian. Karena itu penulisan artikel di Wikipedia menjadi besar artinya. Memang, menulis di sana konon butuh ” gaya penulisan tersendiri <http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Panduan_menulis_artikel_yang_lebih_baik> “. Salah satunya yakni NPOV ( Neutrality Point of View) <http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Aturan_yang_disederhanakan> . Cara termudah untuk mulai mengakrabkan diri bisa dengan langsung merujuk ke pengantar mengenali Wikipedia <http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Pengantar> ,

“Jihad” Keywords; Baru Bisa Mimpi?

Itulah sekelumit yang bisa diamalkan langsung dalam perilaku berinternet oleh hampir seluruh netter muslim. Mungkin terlalu sederhana hingga menggoda untuk dijadikan bahan sindiran, ledekan atau makian. Atau bahkan bagi orang-orang jenis tertentu, malah menstimulasi ide untuk melawan balik dengan me negasikan saja setiap upaya di atas. Tapi tentu, bukan berarti tulisan ini hendak menjahilkan diri dari beragam masukan dan tambahan.

Mungkin terlalu indah untuk membayangkan segera melimpahruahnya literatur keislaman di internet sehingga untuk setiap keywords keislaman yang spesifik, langsung ditemui “hasil yang benar” di halaman pertama search-engine. Atau mungkin masih terlalu muluk kalau ingin membuktikan Islam sebagai pandangan hidup yang utuh dan menyeluruh, “cukup” evaluasi saja dari hasil pencarian keywords “apapun”. Misalnya untuk kata kunci

kapitalisme

pluralisme

pengentasan kemiskinan

anti korupsi

pertumbuhan ekonomi

kesejahteraan rakyat

, dan seterusnya, mestinya muncul sudut pandang Islam mengenai hal-hal tersebut.

Tapi setidaknya, sekecil apapun perilaku berinternet kita, sedikit banyak akan berpengaruh pada bagaimana wajah web secara keseluruhan. Bagaimana tidak? Karena begitu memasuki dunia internet, konon semuanya akan dianggap “setara”. Terlebih lagi di era partisipasi, interaksi dan kolaborasi seperti booming sekarang ini.

Kita akan tampak, maaf, “lucu” kalau hanya mencak-mencak mengumbar marah kesana kemari. Toh karena memang, kita sendirilah yang harus menunjukkan apakah umat Islam ini cukup berdaya atau tidak (di dunia maya)? Wadah telah tersedia, tentu tak sepatutnya diabaikan begitu saja.

Terus, ngomong-ngomong, makna jihad itu sendiri apa ya?

Mari lihat bersama, apa “kata” mesin pencari tentang jihad atau makna jihad ? Mau tahu jawaban <http://www.google.co.id/search?hl=id&q=jihad&btnG=Telusuri+dengan+Google&meta=> - jawaban <http://www.google.co.id/search?hl=id&q=makna+jihad&btnG=Telusuri+dengan+Google&meta=> nya?

Wallaahua’lam bish-shawwab.

Zamrud Kh.

Topics: Pencarian Informasi |

Comments

You must be logged in to post a comment.